Archive for the ‘belanja’ Tag

diskriminasi berdasarkan jumlah roda

semoga tidak aneh membaca judul tulisan ini. tetapi itulah kenyataan yang terjadi saat ini. mau menolak atau mencemooh silahkan tetapi itulah realita. kurang puas?

pacific place sebagai salah satu tempat belanja paling prestisius di Jakarta merupakan tempat dilakukannya diskriminasi berdasarkan jumlah roda. apa yang didiskriminasi? terang lah.. untuk tempat belanja sebesar dan sekelas bintang lima, ternyata bikin pusing tujuh keliling untuk para pengendara motor. gak ada parkiran motor ! hueeek!!

sudah buka websitenya pacific place?
disana disebutkan

Accomodating over 2,000 cars, Pacific Place parking provides convenient access dor shoppers and amll visitor to enter the building. The car parks are conveniently located in Basement 1, Basement 2, Basement 3, and Basement 4.

trus kemana parking untuk motornya?? apa menurut mereka pengendara motor tidak mempunyai daya beli seperti yang punya mobil?? huh!!

seandainya pun ada parkiran motor, adanya di parkiran automall yang jaraknya lumayan juga yah kalau jalan kaki dan ditemani tetesan hujan. inikah bentuk kemajuan dan kapitalisme? diskriminasi telah hadir kembali.. kali ini untuk pengendara motor.. huh…

Iklan

Tujuh “Dosa” Perempuan Soal Belanja

Mau tahu mengapa niat berlibur keliling Eropa, liburan dengan kapal pesiar atau membeli apartemen belum terwujud? Ini penyebabnya.

Dosa 1
Belanja ‘Balas Dendam’

Akhir-akhir ini Anda bekerja lebih keras dari sebelumnya. Lembur hampir setiap malam. Pikiran Anda tercurah untuk urusan pekerjaan di kantor. Di saat seperti ini, Anda merasa layak untuk menghadiahi diri sendiri. Menurut Jean Cathzky, saat membeli sesuatu bagi diri sendiri untuk alasan ini, kita cenderung membelanjakan sedikit lebih banyak daripada dalam keadaan normal.

Solusi:
Ada kok cara lebih hemat untuk menghadiahi diri sendiri. Misal, acara melakukan meni-pedi di salon mewah yang menghabiskan uang, bisa diganti dengan mengundang teman-teman dan melakukan ritual meni-pedi di rumah. Lebih hemat dan menyenangkan.

Dosa 2
Belanja Dalam Keadaan Terdesak
Anda akan menghadiri pesta malam ini. Anda butuh baju baru untuk tampil prima di acara pesta. Anda tidak punya banyak waktu untuk memilih barang yang murah dan bagus. Begitu Anda tertarik dengan atasan bagus, Anda langsung membelinya, tanpa melihat harga.

Solusi:
Anda bisa tampil cantik tanpa perlu membeli pakaian baru. Manfaatkan dong, teman atau saudara Anda. Jika koleksi baju teman atau saudara cukup banyak dan bagus, enggak salah kok, sesekali meminjam pakaian mereka. Atau, siasati dengan cara lain. Daripada membeli pakaian baru, lebih baik Anda membeli aksesori yang dapat menunjang pakaian lama Anda. Harga sebuah kalung etnik pasti lebih murah dibandingkan harga dress bertali spagheti.

Dosa 3
‘Lapar Mata’

Niat semula Anda hanya ingin cuci mata. Namun, nafsu Anda tak tertahankan begitu melihat baju seksi itu turun harga hingga 50%. Jadi, tanpa pikir panjang Anda langsung membelinya. Tak tanggung-tanggung Anda membeli dua sekaligus dengan warna berbeda. Anda merasa telah berbelanja bijak karena berhasil mendapatkan barang-barang itu setengah harga.

Solusi:
Bukanlah hal yang bijak jika Anda membeli suatu barang yang tidak Anda butuhkan. Memang, baju itu mungkin menarik di mata Anda, tapi apakah Anda yakin itu akan Anda pakai? Jangan-jangan baju itu bernasib sama dengan teman-temannya yang hanya memenuhi isi lemari Anda di rumah. Jadi, biarpun barang itu turun harga, jika Anda tidak membutuhkannya sebaiknya lupakan saja.

Dosa 4
Berbelanja kala merasa sedih
Bagi sebagian perempuan, pelarian saat patah hati yang tidak merusak adalah belanja. Ini ada benarnya. Karena secara psikologi dan psikiatri, belanja memicu aliran deras dopamin ke otak. Aliran itulah yang dirasakan ketika Anda jatuh cinta. Berbelanja juga bisa mengaktifkan endorfin. Dengan kata lain, tindakan berbelanja biasanya membuat orang merasa lebih baik.

Solusi:
Daripada masa ‘berkabung’ Anda dihabiskan di mal, mengapa Anda tidak alihkan ke gym? Olahraga dan belanja, keduanya sama-sama mengaktifkan endorfin yang membuat rasa bahagia, bukan?

Dosa 5
“Jika Teman Punya, Mengapa Saya Tidak?”
Teman-teman Anda mempunyai boot baru, masak Anda tidak punya? Rekan di kantor baru saja membeli kacamata hitam besar dengan mode yang up to date, dan Anda merasa perlu untuk memilikinya.

Solusi:
Anda boleh berkompetisi dalam hal belanja, namun, alangkah baiknya jika yang Anda kompetisikan adalah tujuan yang lebih besar. Misal, Anda berkompetisi untuk membeli apartemen, mobil, atau liburan. Atau Anda bisa saja berkompetisi dalam hal mencari barang-barang vintage yang sama bagusnya dengan barang teman Anda, namun dengan harga lebih miring. Lebih bijaksana, bukan?

Dosa 6
Belanja Pengusir Bosan

Anda merasa bosan dan ingin sesekali menikmati kesenangan. Makanya Anda makan siang di resto mewah, membeli dress baru dan berbelanja barang-barang printilan yang sebenarnya tidak Anda butuhkan.

Solusi:
“Oke, Anda boleh melakukan itu, tapi gunakan uang tunai,” kata Penelope Joye, managing director of Financial Planning di http://www.superwoman.com. Pasalnya, ketika Anda menggunakan kartu kredit, Anda tidak akan sadar berapa banyak uang yang keluarkan untuk membelanjakan barang-barang itu. Tapi kalau menggunakan uang tunai, Anda bisa membatasi diri. Anda akan berhenti ketika uang di tangan telah habis.

Dosa 7
Terperangkap Sikap Perfeksionis

Anda tidak cukup dengan hanya membeli tas baru. Tapi, Anda merasa butuh membeli barang-barang lain untuk menyesuaikan dengan tas baru itu. Ya, Anda merasa perlu membeli sepatu, anting, pakaian, yang senada dengan tas.

Solusi:
Anda perlu memberi batasan dalam berbelanja. Misal, Anda bisa menganggarkan dana setiap bulan untuk memenuhi keinginan Anda itu. Berhentilah jika dana yang Anda anggarkan telah habis. Anda bisa berbelanja lagi di bulan berikutnya dengan anggaran baru. Selain itu, kurangilah pos-pos yang Anda anggap kurang penting, misal, acara ngopi-ngopi, nonton, makan di luar, dan sebagainya.
Ika Nurul Syifaa

dikutip dari Kompas.com