Archive for the ‘kuliner siang’ Category

review asinan jakarta

pagi hari yang dingin ini, gue menemukan sebuah surel yang masuk di kotak masuk gue.. wah ternyata sebuah ulasan mengenai asinan jakarta.. dan tepat sekali… ulasan asinan jakarta yang pernah ada di blog gue ini.. pelan2 gue baca tulisan tersebut.. olala.. meleleh nih air liur.. apalagi ketika dalam prosesi penuangan gula jawa.. wah nikmat bangeetss.. biar semua kebagian kejadian “terbitnya air liur” silahkan baca review ini :

Nostalgia Asinan Betawi 1950-an
Begitu mendengar nama Menteng Pulo, Jakarta, ingatan banyak orang langsung tertuju ke kuburan. Kuburan taman yang tertata rapi itu adalah kuburan milik Belanda bernama Ereveld Menteng Pulo. Padahal selain yang seram-seram itu, kawasan tersebut juga menyimpan makanan tradisional yang sudah ada setengah abad lamanya.
Tepatnya di seberang Jalan Menteng Pulo, ada gang bernama Gang Sadar. Di mulut gang ini setiap hari nangkring pedagang Asinan Betawi. Asinan ini kini sudah memasuki generasi ketiga. Riwayatnya berawal dari sang kakek, yang asli Betawi, berkeliling menjajakan asinan pikulan hingga ke seputaran Jalan Dr Satrio di masa kini.
Setelah si kakek lelah memikul dagangan, tongkat estafet diserahkan ke generasi kedua yang sebentar berjualan dengan pikulan untuk kemudian memilih mangkal di kawasan Menteng Pulo. Berlanjut kemudian ke generasi ketiga. “Saya enggak tau kalau ditanya tahun berapa. Tapi udah lama, dari sejak kakek,” ujar Anih, generasi ketiga Asinan Betawi ini.
Sayangnya, baik Anih maupun adiknya, Inah, mengaku sama sekali tak ingat nama ayahnya, penerus kedua. Apalagi nama sang kakek. “Udah enggak ada semua. Saya enggak tau namanya siapa,” tegas Inah, yang diamini Anih.
Asinan Betawi yang satu ini masih dijajakan menggunakan pikulan, meski penjualnya mangkal. Biasanya, orang membeli asinan ini untuk dibawa pulang karena memang tak ada tempat tersisa bagi mereka yang ingin menyantap asinan segar ini di tempat jualannya. Karena berada di gang sempit, maka pembeli dan pedagang harus selalu bersenggolan dengan pengendara motor yang hilir mudik dari dan ke gang ini.
Bungkus pisang

Asinan seharga Rp 7.000 per porsi ini dibungkus dengan daun pisang sehingga menambah aroma. Isinya taoge dan kol di tambah sawi Cina, tahu dan timun yang sudah direndam air cabai dan cuka. Setelah itu, kacang tanah digoreng ditebar, kemudian diguyur lelehan gula jawa, sambal (jika mau), plus sedikit garam.
Setelah itu kuah cuka ditambahkan ke adonan tersebut. Terakhir, kerupuk kampung berwarna merah disebar. Jika mau, bisa ditambah kerupuk mi berwarna kuning. Harganya Rp 2.000 per kerupuk. Sebelum asinan ini disantap, aduk semua sampai rata. Maka rasa sebenarnya akan langsung menyentak lidah. Asam, manis, asin, dan berbagai rasa asli dari sayur-mayur yang digunakan. Jika ditambah sambal, tentu rasa pedas makin bikin semangat.
Karena dagangan ini sudah ada sejak sekitar 1950-an, maka tak aneh jika pelanggannya juga banyak dan turun temurun. Contohnya saat Warta Kota tanpa sengaja bertemu pelanggan yang sudah sejak tahun 1960-an sering menikmati asinan ini.
“Sudah sejak tahun 1960-an, sejak masih kecil, saya udah sering makan asinan ini. Dulu saya tinggal di Berlan, sering main ke sini cuma untuk cari asinan ini,” ujar Spriati, yang kini tinggal di Pasar Rebo dan tetap kangen kepada Asinan Betawi ini. Sekarang, Supriati menjabat Kepala Sekolah Dasar Palmeriam. Bersama putrinya, dia rela menerjang jalanan Jakarta yang macet dan berdenu demi sebuah nostalgia dari seporsi Asinan Betawi.
Asinan Betawi memang tak hanya ada di Gang Sadar, Jembatan Merah, Jakarta Selatan, ini. Di Jakarta Timur, tepatnya di Jalan Kamboja, Rawamangun,juga ada Asinan Betawi yang sudah berumur. Di tempat itu pembeli bisa makan di tempat karena penjual asinan ini punya tempat bernaung berupa warung. Soal rasa, semua tergantung selera. (pra)

Warta Kota
Minggu, 22 Juni 2008

kalau mau liat si ibu dan dagangannya silahkan cek link ini : https://mnrp.wordpress.com/2008/09/18/asinan-jakarta/

Iklan

resep lontong balap

Lontong Balap

Kuah:

  • 150 gram Tulang sapi
  • 100 gram Tetelan sapi, potong kecil
  • 400 ml Air
  • 2 siung Bawang putih, memarkan
  • 1/2 sdt Merica bubuk
  • 1/2 sdt Garam

Lentho:

  • 50 gram Kacang tolo, rebus hingga lunak
  • 50 gram Singkong, parut
  • 3 sdm Kelapa setengah tua, parut kasar
  • 2 butir Bawang merah, haluskan
  • 1 siung Bawang putih, haluskan
  • 1/4 sdt Ketumbar butiran, haluskan
  • 1/2 sdt Merica butiran, haluskan
  • 1/2 sdt Garam

Pelengkap:

  • 3 sdm Bawang putih goreng
  • 6 sdt Petis udang
  • Cabai rawit merah, secukupnya
  • 3 buah Lontong, potong-potong
  • 6 buah Tahu goreng, potong-potong
  • 300 gram Tauge panjang, rebus, tiriskan
  • 2 batang seledri, iris halus
  • Bawang merah goreng, secukupnya
  • Krupuk mi

Cara Membuat::

  1. Rebus tulang sapi, tetelan dan air hingga mendidih.
  2. Tambahkan bawang putih, merica dan garam. Masak kembali hingga tetelan lunak.
  3. Tiriskan daging tetelan. Sisihkan.
  4. Lentho: Campur semua bahan, ambil 1 sendok makan adonan lalu kepal-kepal.
  5. Goreng lentho dalam minyak panas hingga matang. Angkat.
  6. Penyajian: Letakkan 1 sendok teh petis udang. 1/2 sendok makan bawang putih goreng dan cabai rawit di atas piring. Haluskan menggunakan sendok makan.
  7. Atur potongan lontong, tahu goreng dan tauge di atas bumbu petis.
  8. Siram dengan kuah kaldu. Taburi seledri dan bawang merah goreng.
  9. Sajikan dengan pelengkap kerupuk mi dan kecap manis.

Untuk ± 6 porsi

teh tarik, apaan si tu?

ada yang tau teh tarik.. udah pernah ngerasain? terus terang gue gak pernah merasakan teh tarik.. terus terang aja gue gak minat dengan teh tarik.. selain itu bukan sesuatu yang luar biasa juga termasuk pengananan yang mahal (menurut gue).

dus, berdasarkan penelusuran pada mbah google, tersaji deskripsi singkat ttg teh tarik.. diambil dari mbah wiki (http://id.wikipedia.org/wiki/Teh_tarik)

Teh tarik adalah minuman khas Malaysia yang biasanya dijual oleh para mamak (orang India Muslim) di Malaysia dan Singapura. Minuman ini berupa teh yang diberi susu kental manis yang dituangkan dari satu gelas ke gelas lainnya (ditarik). Dalam proses penarikan ini, kandungan-kandungannya menjadi semakin tercampur rata dan aromanya keluar. Selain itu proses penarikan juga membantu mendinginkan suhu minuman dan memberikan lapisan busa lembut di bagian atasnya yang terbentuk karena kandungan gula di dalam air teh.

Teh tarik dan teh es merupakan minuman yang banyak dijual di rumah makan para mamak, dan biasanya diminum bersama hidangan seperti nasi lemak, roti canai, roti telur, atau roti tempayan. Bubuk teh yang dijual kiloan sering digunakan untuk membuat teh tarik. Setelah diseduh, teh disaring dengan kain kasa dan dicampur dengan susu kental manis.

ya sutra lah… selamat menikmati teh tarik yang tidak jelas asal usul namanya. mendingan nikmati saja komentar benny dan mince berikut ini (diambil dari Kompas, 16 Nop 2008)

Baca lebih lanjut

[resep]es buah hijau

es buah hijau

es buah hijau

Bahan:
3 bh kiwi, kupas, iris tipis
1/2 bh melon hijau, keruk bulat
300 gr nata de coco siap beli
1 kaleng anggur hijau, tiriskan

Sirup:
100 gr gula pasir
500 ml air
1 ikat daun mint

Cara membuat:
1. Masak semua bahan sirup hingga gula larut dan daun mint layu, angkat, saring. Sisihkan.
2. Taruh semua bahan buah dalam wadah, tuangi sirup. Dinginkan hingga saat disajikan.

Asinan Jakarta

gak nyangka ternyata kompas.com juga merilis food spot mantap yang pernah dikunjungi. gambar ini muncul di forum kompas.com tanggal 31 juli 2008 (link)

asinan jakarta gang sadar depan pasar jembatan merah

asinan jakarta gang sadar depan pasar jembatan merah

dan lokasi yang sama juga dipotret oleh fotographer kompas.com dan tayang di kompas.com (link)

Asinan Betawi, Tidak Seketika Populer

hakcipta pada Kompas.com dan Agus Susanto

hakcipta pada Kompas.com dan Agus Susanto

Siapa bilang nasib kuliner Betawi sama dengan kudapan kerak telor yang merana? Coba klik portal para penggila kudapan di Jakarta, Jajan.Com. Sampai Jumat (5/9), dari 15 tempat kudapan terpopuler di Jakarta, lima tempat di antaranya bermenu Betawi.

Ada Soto Mie Sarodja di Jalan Danau Tondano, Pejompongan, Jakarta Pusat. Gado-gado Taman Sari di Lantai 2 Harco Mangga Dua Pujasera, Jakarta Barat, Sop Sumsum Kambing Proklamasi di bawah rel kereta api Tugu Proklamasi, Jakpus, dan Asinan Kamboja resep Bang Mansyur di Jalan Taman Kamboja III No 10, RT 8 RW 11, Rawamangun, Jakarta Timur.

Menurut Ayu, salah seorang mantu Mansyur yang ditemui Kamis (4/9) sore, omzet warung Asinan Kamboja naik dua kali lipat setiap bulan Ramadhan. ”Kalau pada hari biasa kami setiap hari berbelanja bahan sebanyak sejuta rupiah, maka setiap Ramadhan, kami bisa menghabiskan uang Rp 2 juta lebih untuk membeli bahan,” paparnya.

Meski pelanggan naik dua kali lipat, jam buka warung pada bulan suci itu justru lebih pendek. Kalau pada hari biasa warung buka pukul 09.00-22.00, pada bulan Ramadhan buka pukul 11.00-19.00. Akibatnya, di samping warung penuh sesak menjelang jam buka puasa, antrean pembeli pun memanjang sejak pukul 16.00.

Beruntung, Mansyur memiliki banyak cucu yang loyal pada usahanya. ”Memang lebih sibuk melayani pelanggan di bulan Ramadhan. Tapi karena bantuan tenaga para keponakan, kerja menjadi lebih ringan dan menyenangkan,” kata Ayu.

”Nendang” kacangnya

Pelanggan Asinan Kamboja bukan hanya datang dari sekitar Rawamangun, tetapi juga dari sudut Jakarta dan Bekasi. Sebagian besar pelanggan Asinan Kamboja membawa asinan pulang. ”Umumnya saya membeli sampai 10 bungkus. Maklum, tetangga pada nitip juga,” tutur Iwan (41) yang tinggal di Bekasi.

Pembeli lainnya, Sulaiman (45), mengaku, setiap ia ke rumah saudaranya di Palembang, ia selalu diminta membawa Asinan Kamboja. ”Saya bawa sampai 20 bungkus asinan ke Palembang dengan pesawat. Pernah saya lupa membawa asinan ke Palembang, akibatnya saudara-saudara pasang muka asam pada saya,” jelas warga Paseban, Jakpus itu.

Kuah asinan Mansyur berbeda dengan kuah asinan betawi umumnya. Kuah asinan betawi umumnya memakai kuah cuka pedas, encer, dan bening, sedangkan Mansyur menggunakan bumbu kacang dalam kuah asinan buatannya. Warna kuahnya menjadi coklat kemerahan setelah dicampur gula merah, dan cabai. ”Kacang digoreng, lalu digiling bersama cabai yang sudah direbus. Gilingan dicampur air cuka dan garam, lalu diguyur gula merah,” jelas ayu.

”Bumbu kacangnya nendang banget di tengah rasa ’nano-nano’-nya,” kata Iwan.

Meski demikian, isi asinan Mansyur sama seperti isi asinan betawi umumnya, yaitu irisan kol, daun selada, timun, taoge, irisan tahu putih, kerupuk mi, dan kerupuk pemanis warna-warni. Bedanya, ”Agar racikan segar, kami belanja mendadak. Maklum, sayurannya kan mentah semua. Sedikit layu, pelanggan bisa pergi,” kata Ayu.

Tak seketika

Asinan Kamboja warisan Mansyur tak seketika populer seperti saat ini. Butuh waktu 10 tahun sebelum populer. Awalnya, sekitar tahun 1968, Mansyur berjualan asinan keliling. Karena permukiman masih sedikit, Mansyur berjualan sampai Pasar Jatinegara, Jaktim.

Tahun 1980-an Mansyur memutuskan berhenti berjualan keliling. Ia lalu menjadikan rumahnya sebagai warung asinan. ”Sepuluh tahun setelah berjualan di rumah, usaha mertua saya mulai dikenal luas. Jadi tak seketika populer,” ucap Ayu.

Tak seketika populer. Itu juga dialami Hasan, penjual asinan betawi lainnya yang berpuluh tahun mangkal di pertigaan Jalan Rawa Belong, Palmerah Barat, Jakarta Barat. Ia mulai berjualan asinan sejak tahun 1943 saat ia berusia 14 tahun. Tahun 2005, pembuat asinan yang dikenal sebagai penjual Asinan Rawa Belong ini menjadi juara kedua lomba hidangan asinan kaki lima se-Jakarta yang diadakan sebuah hotel di Jakarta.

Di Jakarta Selatan, seperti halnya keluarga besar Mansyur, Ibu Siti, Anih, dan Inah mewarisi kepiawaiannya meracik asinan betawi dari almarhum kakek mereka, Kiding. Asinan mereka dikenal sebagai Asinan Jembatan Merah (sekarang namanya Jalan Menteng Pulo), tepatnya di pintu masuk Gang Sadar, Jalan Saharjo.

Asinan Jembatan Merah sudah ada sejak lebih dari 50 tahun lalu. Tak heran bila pelanggan yang datang berasal dari kalangan sepuh sampai yang muda. Isi asinan betawi Kiding beda dengan isi asinan betawi Mansyur maupun Hasan.

Asinan betawi Kiding terdiri dari taoge, kol, sawi cina, tahu, dan timun yang sudah direndam air cabai dan cuka. Di atas asinan ditebar kacang tanah goreng, lalu diguyur lelehan gula jawa, sambal, sedikit garam, dan kuah cuka.

Seperti umumnya sajian asinan betawi, sajian dibungkus, dan disantap di rumah. Hingga kini, para waris Kiding masih mempertahankan kebiasaan lama Kiding menggunakan daun pisang sebagai pembungkus.

Asinan Kamboja, Asinan Rawa Belong, maupun Asinan Jembatan Merah, tak seketika populer. Mereka menjadi bagian dari legenda Jakarta lewat ketekunan, kerja keras, dan pengalaman panjang. Cobalah sajian orang-orang luar biasa itu.