Archive for Maret 11th, 2009|Daily archive page

Strategi Bekerja di Antara Wanita

Lingkungan kerja yang dominan wanita dipengaruhi karakter like and dislike.

Situasi kerja yang dipengaruhi mayoritas gender membutuhkan kecerdasan Anda dalam membawakan diri. Seringkali wanita yang bekerja di perusahaan yang didominasi pekerja wanita akan lebih mempertimbangkan kenyamanan emosional, adaptasi sosial, serta hal-hal yang bersifat interpersonal lainnya. Sebab karakteristik wanita lembut, sensitif, dan kerap dikalahkan mood atau perasaan. Sedangkan jika wanita bekerja di lingkungan yang dominan pria, lebih mengedepankan hasil kerja dan upaya keras yang dilakukan. Aspek interpersonal bukan hal pokok yang dilihat berkaitan dengan pekerjaan seseorang.

“Lingkungan kerja wanita memang lebih banyak intriknya dibandingkan pria, yang cenderung lebih obyektif dalam memandang seseorang di lingkungan kerjanya,” ungkap Yuni Lasti Faulinda dari Experd (Executive Performance Development) Consulting.

Suasana kerja di lingkungan kerja yang dominan wanita, yang mengedepankan aspek psikis, mengharuskan para pekerja wanita untuk bisa mengatur strategi agar diterima di lingkaran zona nyaman rekan kerja. Tanpa taktik ini, sebaik apapun prestasi kerja seseorang, tak akan membuat ia mudah diterima dan benar-benar dilihat prestasinya.

Pelajari Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja yang dominan wanita sangat mementingkan penerimaan oleh lingkungan dibandingkan hasil kerja yang dilakukan. “Wanita butuh kenyamanan dengan lingkungan yang lebih besar, karena dorongan emosinya lebih besar. Mereka suka mencari chemistry-nya terlebih dulu ketika harus bekerja sama dengan seseorang, terutama orang baru,” papar Yuni.

Nah, untuk menemukan reaksi kimia ini, harus ada beberapa upaya yang perlu dikembangkan di dunia kerja. Pertama, pelajari perilaku dan kebiasaan rekan-rekan di kantor. Bagaimana mereka mengelola konflik, berbicara, berpakaian, apa yang menjadi minat dari mayoritas mereka, dan lainnya. Ini merupakan beberapa referensi yang harus Anda ketahui sebelum masuk ke dalam sebuah pergaulan di lingkungan kerja baru.

Cari Kemiripan
Bersikap luwes dan mendapat dukungan dari rekan kerja lain juga penting untuk meningkatkan karier Anda. Bahkan, Yuni mengingatkan, agar mau mencoba untuk masuk  ke dalam kelompok-kelompok pergaulan yang sudah ada.

Salah satu yang bisa dilakukan untuk mulai masuk dalam lingkungan kerja antara lain mengidentifikasi diri terhadap kelompok pergaulan Anda. Yuni menyarankan untuk mulai dengan mencari kemiripan karakter maupun minat untuk menjalin kedekatan dengan rekan di kantor.

“Sebagai langkah awal, bisa saja mulai membuka peluang. Misalnya mencari kesamaan seperti daerah asal, almamater, hobi, dan lainnya.” Kesamaan inilah yang membuat Anda akan menjadi bagian dari mereka. Seseorang akan cenderung merasa nyaman ketika menemukan kemiripan atau kesamaan dalam beberapa hal.

Pikat Hati Atasan
Kepiawaian memanfaatkan peluang untuk memikat hati atasan juga penting dilakukan. Apalagi dengan atasan yang juga wanita. “Biar bagaimanapun, bos wanita perlu di-touch,” ungkap Yuni.

Memanfaatkan peluang ini dapat dilakukan dengan cara-cara sederhana, yang dapat menjalin intensitas berkualitas dengan atasan. Yuni mencontohkan, ketika akan pergi rapat atau presentasi bersama di luar kantor lalu atasan memberikan tawaran untuk semobil dengannya. Meski Anda sebetulnya sudah punya rencana lain, tak ada salahnya menyambut ajakan tadi.

Di sepanjang perjalanan, Anda bisa mencoba membangun chemistry melalui sejumlah dialog. Meski singkat, Anda tak pernah tahu manfaat dari beberapa menit yang dihabiskan bersama atasan. Atau, Anda juga bisa menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada atasan. Anda juga bisa memberi sedikit cinderamata setelah tugas keluar kota. Atau sekadar bersikap antusias ketika diajak ngobrol dengan atasan. Intinya, lakukan tanpa mengundang kesan menjilat, namun sudah dapat memberi impresi positif kepada atasan.

Ikuti Pergaulan
Dari pengetahuan yang diperoleh, Anda juga bisa mencari celah untuk masuk ke dalam lingkungan kepercayaan rekan kerja wanita lain. Apalagi lingkungan kerja dominan wanita memang dikenal dengan ciri: like and dislike yang sangat subyektif. Jangan sampai, hanya karena salah memilih kata-kata atau berpakaian yang kurang pantas, Anda menjadi sulit untuk diterima dalam lingkungan pergaulan. Pastinya akan sulit bila harus bekerja namun dipandang negatif atas prestasi yang dihasilkan.

Jika ada peluang untuk ngopi, shopping, nyalon, atau nongkrong bareng, manfaatkan ajakan-ajakan ini untuk masuk dalam pergaulan mereka. Amati topik yang mereka sukai, dan usahakan nyambung terus dengan mereka. Jika sudah diterima oleh mereka, perlahan Anda bisa menarik diri dan kembali kepada pribadi yang sebenarnya.

Tetap Rendah Hati
Ketika Anda mulai menunjukkan prestasi yang diharapkan perusahaan, atasan banyak memuji, dan mengakui keunggulan Anda, jangan lupa untuk membagi perhatian ke lingkungan sekitar. Ingat, di lingkungan kerja mayoritas wanita, intrik akan amat mudah muncul. Tetaplah bersikat bersahaja dan merendah. Meskipun komunikasi sudah nyaman dengan atasan, jangan lantas berlebihan pula mendekatinya.

Tetap dekati rekan kerja yang lain setiap kali ada kesempatan. Di lain kesempatan, Anda pasti akan membutuhkan mereka. Misalnya, ketika kantor menuntut Anda untuk bekerja dalam sebuah tim. Namun, tak perlu berusaha terlalu keras mendekati rekan, jika itu justru akan membuat Anda terlihat tak natural.
Cukup bersikap netral dan kooperatif. Bila masih dipandang negatif, mungkin memang begitu tipikal orang yang tidak terlalu menyukai diri Anda. Sejauh tidak mengganggu proses kerja atau tim, tak perlu membawa masalah sepele ini sampai ke atasan, ya!

Atasi Stres
Bila sedang bete dengan seorang rekan kerja, terkadang hasil pekerjaan jadi tak maksimal. Untuk itu, mulailah mengatasi stres dengan menghadapi rekan-rekan kerja yang berseberangan dan berpikiran negatif tentang Anda. Salah satu caranya, dengan berusaha merangkul mereka. Berusahalah memiliki waktu lebih banyak lagi bersama mereka. Jika perlu, dekati salah satu dari mereka untuk menyampaikan maksud baik Anda.

Jika sudah mentok dan mengganggu, apapun permasalahan Anda, sebaiknya bicarakan dengan atasan atau pihak manajemen perusahaan. Namun, tetaplah bersikap profesional dan tidak menempatkan masalah personal di dalamnya. Intinya, memang diperlukan kenyamanan untuk menyelesaikan pekerjaan, tapi jangan membuat semuanya menjadi lebih rumit dengan menjadikan masalah kerja jadi masalah pribadi.

http://perempuan.kompas.com//read//xml/2009/03/10/10063762/strategi.bekerja.di.antara.wanita

Iklan

Bahasa Tubuh Saat Wawancara Kerja

Bahasa Tubuh Saat Wawancara Kerja

Membaca dan memahami bahasa tubuh sangat penting untuk membuat Anda lolos wawancara kerja. Kemampuan komunikasi non-verbal memberikan nilai tambah untuk Anda sekaligus membantu untuk memperkirakan apa yang dipikirkan si pewawancara.

1. Jabat Tangan
Jabatan tangan memperlihatkan siapa diri kita. Hati-hati dengan cara Anda berjabat tangan. Kenal istilah dead fish, bone crusher, atau wet fish? Itu adalah istilah-istilah jabat tangan yang tak bagus. Dead fish adalah tipe jabat tangan yang “malas”, yaitu memberikan tangan saja, tanpa digenggam, seperti ikan mati. Sementara bone crusher, biasanya datang dari arah atas, lalu menggenggam sangat kencang seperti mau meremukkan tulang. Meskipun niatnya menunjukkan tipe orang yang tegas, namun jabat tangan ini menyakitkan dan justru menunjukkan tipe agresif. Tipe wet fish menunjukkan tipe orang yang memiliki masalah dengan kepercayaan diri.

Tiga langkah jabat tangan yang baik:
* Pastikan tangan dalam keadaan bersih, kering, dan tidak sedang memegang benda lain.
* Ketika menggenggam tangan lawan, berikan kehangatan namun pastikan ada ruang udara.
* Jabat tangan dengan profesional, sopan, genggaman kuat, dan senyum hangat.

2. Tatapan
Ketika Anda bertemu dengan si pewawancara, tatap matanya dan berpikirlah, “Wah, senang rasanya bisa bertemu dengan Anda!” Hal ini akan membantu Anda tersenyum dari dalam hati, dan ia akan mendapati sinyal tersebut dengan mood positif. Ketika kita bertemu dengan orang yang kita senangi secara otomatis pupil mata akan membesar, ini merupakan fenomena yang secara insting ditangkap manusia lain.

Selama wawancara kerja, pastikan kontak mata Anda berada dalam seputaran segitiga terbalik wajah si pewawancara. Yakni di antara titik luar alis kiri, ke hidung bagian bawah, dan titik luar alis kanan. Menatap bibir seseorang dianggap pelanggaran seksual, sementara menatap dahi seseorang dianggap merendahkan.

3. Postur Tubuh
Upayakan untuk duduk lurus, agar kepercayaan diri muncul dari sana. Jika Anda merasa rendah diri dan jenuh, coba perhatikan cara Anda duduk dan berdiri. Duduk tidak rapi atau berdiri sambil bersender bisa menekan dada dan mengurangi asupan udara ke paru-paru, yang menyebabkan kegugupan dan ketidaknyamanan.

4. Posisi Kepala
Untuk meningkatkan rasa percaya diri selama wawancara, posisikan kepala Anda tegak secara horizontal dan vertikal. Ini memberikan sinyal bahwa Anda serius dalam menggapai tujuan. Namun ketika dalam percakapan, untuk terlihat lebih bersahabat, miringkan sedikit kepala Anda untuk menunjukkan simpati.

5. Tangan dan Lengan
Tangan dan lengan memberi penilaian akan seberapa “menerimanya” kita. Jadi, upayakan tangan Anda berada di samping tubuh. Ini menunjukkan bahwa Anda bersikap terbuka dan siap menerima apapun yang datang kepada Anda.

Orang pendiam cenderung melipat dan menjauhkan lengan mereka dari badan, sementara orang yang supel cenderung menggambarkan maksud dengan gerakan tangan sambil berbicara. Upayakan gerakan tangan tak jauh dari badan Anda, supaya tak terlihat berlebihan. Jangan melipat tangan di depan dada selama wawancara, karena Anda akan terlihat defensif.

Dua arti gerakan tangan:
* Telapak tangan menghadap ke luar dan ke atas berarti orangnya terbuka dan bersahabat.
* Telapak tangan menghadap ke bawah berarti tipe orang yang dominan dan kemungkinan agresif.

6. Tanpa disadari, kaki cenderung bergerak di luar batas normal ketika kita gugup, stres, atau sedang kebingungan. Mengatasinya? Upayakan kaki kita setenang mungkin selama wawancara. Jangan biarkan kaki Anda terlipat, karena seakan-akan hal itu menciptakan batasan antara Anda dan si pewawancara.

C6-09

Sumber : msn

http://perempuan.kompas.com/index.php/read/xml/2009/03/10/15001772/bahasa.tubuh.saat.wawancara.kerja