Kompromi untuk Pasangan Baru

Selain janji-janji perkawinan yang sudah Anda ucapkan di hadapan pastor atau penghulu, Anda dan pasangan tentu memiliki janji-janji sendiri yang Anda sampaikan satu sama lain. Namun, pada pasangan-pasangan baru saat ini, tampaknya ada pembaruan janji, atau tepatnya kompromi, mengenai kehidupan pernikahan. Kompromi ini bersifat fleksibel karena diadakan antara Anda dan pasangan sehingga tidak mengikat. Bila ada hal-hal khusus yang mendesak, kompromi tersebut bisa dilanggar. Karena, pada dasarnya, kompromi yang dilakukan pasangan bertujuan untuk saling membahagiakan.

Inilah tren kompromi baru antara pasangan suami-istri baru:

1. Aturan lama: Menghabiskan seluruh waktu senggang bersama pasangan dan curiga bila suami ingin jalan-jalan sendiri bersama teman-temannya.

Aturan baru: Secara berkala Anda dan suami boleh hang out bersama rekan-rekannya tanpa mengajak Anda. Hal ini disebabkan banyak pasangan saat ini memiliki teman-teman yang bukan bagian dari circle of friends pasangan mereka, demikian menurut Barbara Dafoe Whitehead, Ph.D., Direktur National Marriage Project at Rutgers University. Pasangan seperti ini umumnya memiliki minat yang berbeda. Bayangkan bila Anda terpaksa harus mengikuti hobinya yang tak Anda suka atau sebaliknya.

Selain itu, kebersamaan yang terlalu sering juga tidak sehat untuk hubungan Anda. “Hal itu membuat Anda terjebak dalam dunia yang sempit, dan itu menciptakan masalah bagi Anda. Mempunyai teman-teman sendiri memberikan perspektif yang lebih luas bagi Anda, dan memperkaya pengalaman yang menjaga agar hubungan tetap menarik. Dan, membuat Anda menjadi pasangan yang lebih menarik, “papar Whitehead.

2. Aturan lama: Pekerjaan rumah harus dibagi secara sama rata antara suami-istri.

Aturan baru: Pekerjaan rumah dibagi sesuai kesepakatan, siapa yang lebih baik melakukannya. Misalnya, karena Anda tak bisa memasak, maka tugas memasak diserahkan kepada suami. Karena pengaruh feminisme dalam keluarga, sering kali anak laki-laki tumbuh dalam lingkungan di mana mereka juga diajarkan melakukan pekerjaan rumah. Contohnya mencuci, menyetrika, atau memasak.

Yang lebih penting sebenarnya suami diharapkan lebih sensitif dengan kebutuhan istri, dan tuntutan perubahan dalam menjalankan rumah tangga. Anda juga harus dapat berbicara lebih asertif pada suami, seperti, “Aku kecapekan tadi berdiri berjam-jam waktu presentasi. Mau nggak kamu yang nyetrika kali ini?” Hal ini jauh lebih baik daripada Anda menggerutu sendiri (ingat, pria tak bisa membaca pikiran Anda dari ekspresi Anda saja) atau mengancamnya, “Kenapa sih kamu nggak pernah membantu aku?”

3. Aturan lama: Ujian yang sebenarnya untuk perkawinan adalah kemampuan Anda menghadapi krisis.

Aturan baru: Hal-hal positif atau negatif yang ditemui sehari-hari adalah apa yang menjamin kesuksesan hubungan Anda. Memang problem besar seperti suami kehilangan pekerjaan, ada keluarga yang sakit atau meninggal, atau perselingkuhan, dapat merusak hubungan, dan berhasil melewatinya dapat menguatkan hubungan Anda. Namun, sikap memberi dan menerima dalam hidup sehari-hari lebih akurat dalam membentuk hubungan yang sehat. Sebagai contoh, melakukan ritual seperti berciuman saat masing-masing hendak bekerja, menanyakan kabar suami di tempat kerja saat makan malam, bergandengan tangan, atau mengirim SMS berkesan satu sama lain. Bila Anda melihat suami pulang dari kantor dengan muka suntuk segera hibur dirinya.

4. Aturan lama: Untuk mendapatkan perkawinan yang kuat, Anda harus datang dari background yang sama dengan suami.

Aturan baru: Agar hubungan menjadi kuat, kemampuan negosiasi dan berkompromi lebih penting daripada kesamaan latar belakang. Kepuasan Anda dan pasangan dalam suatu hubungan lebih dipengaruhi oleh bagaimana Anda membuat keputusan secara positif. Misalnya, seberapa sering Anda harus mengunjungi mertua, sekolah seperti apa yang baik untuk anak, dan lain sebagainya. Pasangan yang datang dari latar belakang pendidikan atau pekerjaan yang berbeda akan memperkaya hubungan jika prioritas mereka adalah untuk membuat perbedaan tersebut menjadi sesuatu yang baik. Cinta Anda pun akan terus berkembang melalui kompromi.

5. Aturan lama: Ketika si kecil mulai hadir, prioritas dalam hubungan harus dialihkan ke anak.

Aturan baru: Setelah Anda memiliki anak, perkawinan justru harus menjadi prioritas. Waktu dan energi Anda memang terkuras untuk mengasuh anak sehingga Anda seringkali melupakan acara berdua dengan suami. Padahal, hadirnya si kecil adalah satu satu penyebab perubahan dan stres dalam perkawinan. Namun, pasangan-pasangan modern saat ini menyadari bahwa kurangnya kemesraan bisa menyebabkan hubungan Anda menjadi garing. Karena itu, bersepakatlah dengan pasangan untuk selalu menyediakan waktu kencan berdua, makan di luar rumah, atau jalan-jalan keluar kota. Jangan lupa, teruslah bergandengan tangan dan berciuman saat akan berangkat ke kantor.

DIN
Sumber : redbook

http://perempuan.kompas.com/index.php/read/xml/2009/02/24/14321818/kompromi.untuk.pasangan.baru

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: