Dollar yang patah, gue yang susah

Post ini bukan mengulas kondisi nilai tukar rupiah yang (masih) terpuruk. Bukan pula mencoba merefleksikan diri sebagai seorang ahli ekonomi yang berupaya menahan gempuran badai krisis ekonomi dunia (pan gue bukan sarjana ekonomi). Dus, bukan pula menguak tips dan trik untuk terus eksis secara ekonomi walaupun hidup harus terus ekonomis (baca: irit). Jadi salah besar jika mencari sebuah hasil olah pikir yang berkaitan dengan adam smith dan teori keynes.

Perkara diawali oleh sebuah kebodohan dari seorang yang mengaku dirinya sebagai seorang warga negara Indonesia. Dia hidup di bumi Indonesia, dia minum air Indonesia, dia pun berdiri di tanah Indonesia. Namun apa lacur pola pikir dan tingkat kecerdasan yang ternyata berada dibawah garis kecerdasan rata-rata. Saking alpanya, gue rasa dia lupa bahwa mata uang Indonesia adalah rupiah.

Mengapa demikian?

Pokok perkaranya adalah sangat sederhana yakni masalah transaksi jual beli sebuah program komputer yang rencananya akan digunakan oleh salah seorang ekspatriat yang akan kerja di kantor gue. Permintaan ekspatriat itu mudah saja, dia perlu komputer yang bersoftware MS Windows serta dilengkapi dengan MS Office versi Jepang. Kenapa mesti jepang? Karena dia orang jepang sehingga dia lebih familiar bila menggunakan software yang berbahasa pengantar jepang.

Itu saja.

Lah kok jadi repot?

Oh ya.. menjadi repot karena si WNI ini terlalu bodoh dalam melakukan deal bisnis dengan pihak penjual software yang dimaksud. Saking bodohnya, dia berlaku seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Nurut aja gitu loh dengan syarat pembayaran yang mesti harus wajib menggunakan dollar amerika dan cash and carry. Please dech. Emangnya seberapa besar sih jumlah transaksinya?

Hanya USD 165 sajah gitu loh.

Ok, itu awal muasal dari sebuah masalah. Sebagai kasir gue hanya melakukan sebuah prosesi serah terima tanggung jawab untuk melakukan penyerahan sejumlah atas permintaan cash advance yang telah disetujui oleh finance manager. Jadilah sebuah proses penjerumusan diri dalam kubangan masalah gue jalani. Tarik cash dalam bentuk dollar disertai serah terima kepada pihak yang membutuhkan cash advance. Seperti transaksi lainnya, complain setelah meninggalkan meja kasir tidak diterima. Pengertiannya adalah si penerima sudah setuju dengan jumlah dan keadaan uang yang diterimanya dari kasir.

Sehari kemudian, transaksi pembelian software yang tersebut diatas dilaksanakan oleh orang lain (bukan si penerima uang). Berarti sudah ada penyerahan ke tangan lain selain kasir dan si peminta cash advance. Catet !

Sesampainya di toko si penjual software itu, uang dollar tersebut ditolak oleh penjual karena uangnya patah? What the heck?

Uang patah apa yah artinya?

Usut punya usut ternyata uang tersebut (tepatnya yang pecahan USD 5) ketekuk atau terlipat sehingga mengakibatkan tidak mulus lagi dan kehilangan nilainya. Atas dasar itu maka transaksi tidak bisa dijalankan karena jumlah uangnya tidak sesuai dengan kesepakatan. What?

Masalah belum selesai kawan.

Si WNI yang bodoh itu komplen ttg masalah tersebut. Hey tunggu dulu, ingat peraturan kasir diatas. Komplen setelah meninggalkan meja kasir, tidak diterima. Tapi yaa emang dasar WNI yang bodoh maka peraturan itu dianggap sebagai sebuah angin lalu saja dan minta agar uang tersebut diganti. Hey! Lo kira gue tempat penukaran uang (money changer)?

Prosedur jadi panjang karena mesti membuat aplikasi ke bank yang disetujui oleh finance manager dan mesti ke bank lagi untuk mendapat uang pengganti. Sementara di bank pun gue da tau kalau ganti uang yang rusak, pasti nilainya akan berkurang. Trus siapa yang mo menanggung kerugian nilai itu? Gue? Gak la ya.. gue cukup puas dengan beban memegang uang 10juta perhari yang mana bukan uang gue.

Cuma gara2 uang dollar yang patah.. proses pembayaran yang sebenarnya sangat mudah dan sederhana jadi panjang dan rumit. Belum lagi beban untuk menghadapi omongan finance manager yang menyalahkan gue kenapa mesti hal ini terjadi. Hey boss, this is not my responsibility. The money is already taken by the requestor.

Bila saja WNI itu lebih cerdas yaaa setidaknya menyesuaikanlah dengan kemeja lengan panjang nan rapih serta wangi itu, tentunya hal ini gak perlu terjadi. Gue perlu mencak2, gue gak perlu meluangkan sekian waktu untuk membuat aplikasi ini itu serta menghabiskan sekian rupiah untuk telpon sana telpon sini. Berapa rupiah penghematan yang bisa gue lakukan bila saja si WNI bodoh itu keukeh untuk menggunakan rupiah dalam setiap transaksinya?

FYI, anggaplah rate dollar saat ini sekitar Rp 11.500,- berarti nilai rupiahnya adalah Rp 1.897.500,-

Dengan uang yang pegang saat ini sekitar 10juta, tentunya jumlah tersebut tidak material dan bisa langsung dicairkan. Sehingga transaksi pembelian cash and carry itu bisa berjalan lancar aman dan nyaman.

Sekarang coba kalau menggunakan jasa bank (baca: transfer)

biaya bank untuk tranfer rupiah dalam kota adalah 5000 rupiah. Sementara untuk transfer dollar dalam negeri adalah USD 20,00 silahkan bandingan berapa rupiah yang bisa dihemat?

Dipercepat saja hitungannya = Rp 225.000,- waow !

Itu jumlah yang lumayan loh.. bisa makan untuk seminggu mungkin?

Tapi yaa itu juga kalau si WNI bodoh itu mau menggunakan logika dan akalnya serta menggunakan bacotnya yang sungguh seperti tong kosong. NATO !

Yah gitulah WNI bodoh.. tinggal di Indonesia tapi menggunakan mata uang asing. Jangan2 dia terbiasa bayar uang bensin dengan uang real…. huehuhehheehehe

ditulis menggunakan OpenOffice 3.0.1

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: