Jangan Malas Saat di Ranjang

Bagi banyak pasangan, inisiatif untuk bercinta dianggap hanya pantas dilakukan oleh kaum pria. Lagi-lagi, hal ini disebabkan norma keluarga yang mengatakan bahwa seks adalah sesuatu yang tabu dibicarakan dan hal-hal semacam itu. Namun, saat menikah Anda akan menyadari bahwa perempuan memiliki keinginan untuk bercinta sebesar keinginan kaum pria, hanya saja perempuan tidak menyatakannya. Kelak, Anda pun akan mendapati bahwa keengganan Anda untuk menunjukkan hasrat, sikap risih Anda saat berhubungan, hanya akan memadamkan keinginan suami untuk bercinta dengan Anda.

Untuk mengetahui bagaimana kebiasaan pasangan dalam bercinta, Redbook melakukan jajak pendapat yang melibatkan lebih dari 5.000 pria menikah, dan hampir 5.000 wanita menikah, berusia 25-45 tahun. Hasilnya sungguh mengejutkan: lebih dari separuh pria dan wanita mengatakan bahwa mereka masih berhasrat pada suami atau istri mereka seperti saat pertama bertemu. Lebih dari seperlimanya makin berhasrat lagi pada pasangannya. Hal ini membuktikan bahwa kebersamaan selama bertahun-tahun tidak mengurangi hasrat seksual mereka terhadap pasangannya.

Ada banyak hal unik lainnya yang terungkap dari hasil jajak pendapat ini. Bila Anda ingin hasrat Anda pada pasangan terus meningkat, atau bagaimana agar suami menginginkan Anda lebih dari sebelumnya, baca apa saja keinginan pria terhadap pasangannya saat di ranjang.

Buat inisiatif, dan tunjukkan sikap antusias. Coba ingat, kapan terakhir kali Anda mengajak suami Anda bercinta? Pernahkah Anda menyampaikan kepada suami bahwa hasrat Anda sedang memuncak? Mungkin Anda menganggap siapa yang berinisiatif duluan tidak penting karena pada akhirnya Anda berdua akan bercinta. Namun bagi pria, inisiatif menunjukkan bahwa Anda memang berhasrat padanya. Karena itu, jangan hanya mengirim sinyal-sinyal seperti membuka kancing blus Anda. Si Dia tak akan menganggap hal tersebut sebagai inisiatif, kecuali Anda langsung mencium lehernya atau membelai bagian lain tubuhnya yang sensitif.

Ganti gaya. Man is creature of habit, begitu kata pepatah. Begitu kita menemukan sesuatu yang kita suka, kita akan terus melakukannya. Begitu pula dengan seks. Jangan terpaku pada ritual “belai, cium, lalu penetrasi”. Jika bercinta hanya begitu saja, Kamasutra tak akan ada. Cara termudah untuk mencari alternatif bercinta adalah memilih waktu, tempat, dan gaya yang berbeda. Pancing dia dengan mengirimkan SMS berisi “undangan bercinta” saat masih di kantor, dan biarkan ia penasaran begitu bertemu di rumah. Namun jaga agar hasrat tersebut masih terasa. Jangan karena Anda sibuk menyiapkan permainan akhirnya suami tertidur kecapekan.

Adventure. Lakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan sebelumnya, seperti bercinta di tempat yang sedikit terbuka. Misalnya, kamar Anda di lantai dua dengan balkon di depannya. Buka saja pintunya, lalu nikmati rasa berdebar-debar bahwa tindakan Anda akan kepergok orang lain. Anda juga bisa saling bertukar fantasi dengan suami, dan coba sekali-sekali wujudkan fantasi tersebut. Tentu saja, semua harus didiskusikan lebih dahulu. Anda berhak menyampaikan bila Anda merasakan sakit, misalnya.

Jangan malas. Anda hanya diam menikmati setiap belaian suami, namun enggan melakukan hal yang sama padanya. Ayolah, seks adalah memberi dan menerima. Bila Anda belum tahu apa keinginannya, tanyakan saja. Anda juga harus rela melakukan sesuatu yang hanya dinikmati satu pihak saja; contohnya oral sex. Bila kekurangan ide, coba ikuti adegan-adegan dalam film Hollywood.

Percaya diri. Masih banyak perempuan yang enggan bertelanjang di depan pasangannya, entah karena risih atau karena malu menampakkan bagian tubuh yang kurang sempurna. Padahal, bertelanjang di depan suami juga menunjukkan hal penting lain: bahwa Anda bersedia mengomunikasikan semua hal secara terbuka, termasuk hasrat seksual Anda. Adalah tugas Anda untuk mengekspresikan kebutuhan Anda kepada suami, begitu pula sebaliknya. Yang penting adalah bagaimana kesenangan dan kepuasan Anda saat menghabiskan waktu berdua.

Beri perhatian. Saat sudah memiliki anak, Anda mungkin akan merasa bahwa seks hanya menjadi kewajiban antara suami dan istri. Anda tak lagi menikmatinya karena sudah kehabisan energi saat mengurus anak. Berhentilah untuk berpikir bahwa anak adalah satu-satunya yang butuh perhatian Anda. Berikan pula perhatian Anda untuk suami meskipun secara kuantitas tak sesering dulu namun secara kualitas tetap 100%.

Bicara dari hati ke hati. Tidak ada yang lebih menyebalkan daripada bertengkar mengenai seks. Maka, sebelum suami mulai sering telat pulang meninggalkan Anda mengurus anak sendirian, biasakan membicarakan apa pun sejak awal. Mungkin Anda memiliki keinginan yang berbeda dengan suami. Namun, Anda bisa mendahulukan sesuatu yang penting bagi hubungan Anda berdua.

Ketertarikan fisik. Mungkin perut Anda sedikit berlemak, atau bokong sedikit mengendur. Tak usah berkeluh kesah mengenai hal tersebut. Bila suami Anda mengatakan bahwa Anda seksi, memang begitulah Anda di matanya. Kerisauan yang berlebihan tentang penampilan Anda justru akan membuat Anda kecewa dan tidak mampu memberikan yang terbaik bagi suami.

DIN
Sumber : redbook

http://perempuan.kompas.com/read/xml/2009/02/26/1258186/jangan.malas.saat.di.ranjang

2 comments so far

  1. cantik on

    saya sangat setuju dengan tulisn ini,tapi bagaimana bila si suami yang malu2

    mnrp:
    suami malu2 itu adalah pertanda bahwa dia ragu2 dalam mengungkapkan isi hatinya (gak cuman suami loh.. istri juga begitu adanya).. paling baik adalah jika suami istri harus lebih terbuka dalam masalah komunikasi apalagi yang berkaitan dengan hal2 ranjang..
    walaupun seks bukan segalanya tetapi ada sekian banyak keuntungan/manfaat dari seks.

  2. cantik on

    terima kasih atas responnya. Sepertinya anda orang yang bijak dalam menyelesaikan permasalahan, saya terkesan dari jawaban anda.Terima kasih atas masukannya, Semoga kedepannya suami ataupun istri bisa terbuka sehingga terbentuk keluarga yang harmonis dan tidak saling mentutupi bahkan minder

    mnrp:
    thx sudah berkunjung kembali🙂
    semoga dengan saling membuka komunikasi yang positif dan aktif, keharmonisan keluarga mencapai tingkatan yang lebih baik.. amin🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: