wakaf jasad

ada sebuah surat pembaca yang dipublikasikan di vivanews.com (http://ureport.vivanews.com/news/read/22080-menjadi_cadaver). penulis surat ini adalah ibu Pangesti Wiedarti, seorang dosen (?) di FK UGM (note: dalam surat tersebut tidak disebutkan secara eksplisit pekerjaan dari ibu Pangesti Wiedarti).

isi singkat dari surat pembaca itu adalah penyampaian alasan mengapa ibu Pangesti dan suami bersedia untuk menjadi Cadaver. cadaver adalah pendonor jasad untuk kepentingan kedokteran. jadi bilamana beliau nanti meninggal, jasadnya akan diserahkan kepada Fakultas Kedokteran UGM untuk dijadikan sebagai obyek penelitian kedokteran.

“dari tanah kembali ke tanah” tampaknya tidak terjadi dengan mudah untuk jasad ibu Pangesti karena nanti jasadnya akan “mampir” dulu ke laboratorium FK UGM. entah akan dibedah atau dipotong2 untuk melihat isi dalam tubuh seperti ginjal, paru2 dsb dsb.

IMHO, sebuah isu yang menarik terlebih lagi bila dikaitkan dengan ziarah kubur. akan kemana para peziarah tersebut? ke FK UGM kah? itu pun dengan catatan bila jasadnya masih utuh berada di FK UGM. bagaimana jika organ2 tubuhnya sudah terpisah jarak?

pertanyaan: bersediakah anda untuk menjadi cadaver?

2 comments so far

  1. Jefry Austin on

    Saya telah membaca karya kamu. semua bagus. Tampaknya kita memiliki aliran dan semangat tulis yang mirip. Oleh karena itu saya ingin agar kita saling berkunjung blog.

    Kami akan menyajikan mater-materi kami untuk menyambut anda. kami mengundang anda. Di blog saya selain ada refelksi, juga terdapat banyak hal di sana. Mari kita saling memperkaya pengetahuan dan pengalaman.

    Selamat datang. Kami menunggu anda.

    mnrp:
    trims atas kunjungannya…
    saya akan berkunjung ke tempat anda, ASAP 🙂

  2. Upik on

    Silakan baca info di bawah dan bisa search ybs di yahoo atau google.
    Salam,
    Upik
    =====================================
    http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=191679&actmenu=46

    Keluarga ==> PASANGAN PANGESTI WIEDARTI-FITRI MARDJONO; Wakafkan Jasad untuk Dunia Ilmu Pengetahuan 16/02/2009 09:47:48

    PASANGAN Pangesti Wiedarti PhD dan Dr Ir Fitri Mardjono MSc,
    memiliki ‘keinginan’ yang belum lazim bagi masyarakat kita.
    Mereka telah bertekad bulat mewakafan jasad jika kelak meninggal, entah kapan tentunya. Jasad mereka kelak untuk keperluan media pembelajaran mahasiswa Fakultas Kedokteran,
    khususnya di Universitas Gadjah Mada. Dalam dunia medis,
    pasangan ini menjadi donor cadaver.

    “Alhamdulillah, niat kami kesampaian. Setidaknya, sudah ada notaris yang mau membuatkan akta. Meskipun dari tiga notaris yang saya hubungi, hanya satu yang sanggup,” kata Pangesti, dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang juga pakar bahasa (linguist). Suaminya, Fitri Mardjono adalah dosen Fakultas Teknik UGM.

    Niat tersebut, memang mengejutkan banyak pihak. “Pada umumnya, teman-teman merasa ngeri. Padahal it is not a big deal for us karena kami sama-sama ilmuwan yang peduli pada kemajuan bidang media dan masyarakat Indonesia. Kami sudah memikirkan sejak 1986,” papar Pangesti, belum lama ini. Apalagi tesis S2 dan S3 Pangesti terkait dengan topik medis dan bahasa. “Untunglah pada umumnya masyarakat medis sangat paham tentang niat kami, meskipun kalangan ulama masih pro-kontra,” tambahnya.

    Menurut Pangesti, Pembantu Dekan I Fakultas Kedokteran UGM, Prof dr Iwan Dwiparahasto PhD, pada awalnya juga sangat terkejut. Akan tetapi segera memfasilitasi wakaf jasad tersebut. Prof Iwan bahkan mengakui, telah lama mengimpikan ada sosok yang suka rela menjadi cadaver.

    Apa yang dilakukan Pangesti-Fitri Mardjono, memang bukan yang pertama. Di FK Universitas Brawijaya (Unibraw) memiliki cadaver Budi Setiawan (75 tahun) yang mendonorkan seluruh tubuhnya tahun 2003 lalu.

    Di luar negeri, menjadi cadaver sudah amat lazim. Dalam sejarah ilmu pengetahuan, kita mengenal ahli fisika asal Jerman Albert Einstein penemu teori relativitas 100 tahun lalu yang juga menyumbangkan jasadnya untuk ilmu pengetahuan. Konon, otak Einstein paling banyak diteliti karena kejeniusannya.

    Pertanyaan apa alasan yang mendorong Pangesti dan suami menjadi cadaver, telah banyak dilontarkan. “Semua, berangkat dari perenungan atas kisah hidup saya yang banyak harus berhubungan dengan dunia medis,” katanya. Salah satu contoh, saat Pangesti usia 17, ibunda Pangesti meninggal mendadak akibat serangan jantung begitu kaget mendengar anak sulungnya kecelakaan lalu lintas. Selanjutnya, dia harus mengurus adik bungsu yang sakit lever. Kuliah sempat tersendat karena keuangan keluarga tercurah untuk biaya pengobatan.
    ‘Giliran’ Pangesti datang ketika studi S3 di Sydney. Dia didiagnosa menderita kanker. Jauh dari keluarga (suami sedang studi S3 di Belanda, putri tunggalnya di Yogyakarta) Pangesti harus melakukan semuanya sendiri. Dia berhasil melewati operasi, kemoterapi dan radioterapi yang sangat berat. Agaknya, Tuhan terus memberi cobaan dan ujian. Tahun 2005, sang suami (Dr Fitri) pakar konstruksi bangunan menderita sakit liver bukan akibat hepatitis B atau C, apalagi minuman keras atau obat pereda nyeri. “Dia jauh dari semua itu. Anehnya hingga kini penyebabnya belum diketahui,” ujar Pangesti.

    Sakit, sakit dan sakit…. Itulah agenda hidup keluarga Pangesti. Tak sekalipun mereka mengeluh. Bahkan mengambil hikmah: “Harus ikut partisipasi bagi dunia medis, agar tak ada keluarga lain yang juga mengalami hal sama”. Keluarga Pangesti menemukan cara cerdas yakni: menjadi cadaver.

    “Ini bagian dari hak asasi manusia. Kami sudah niat dan sepakat!,” kata Pangesti mantap. Tak ada keraguan sedikit pun dari sinar matanya.

    Saat ini, pasangan suami istri itu sudah memiliki gambaran. Kelak jika tiba saat Tuhan mengambil hidupnya, tak akan ada pertanyaan tentang: Dimakamkan di mana, kapan dan jam berapa. Prosesi pelayat bagi Dr Fitri akan sampai kampus FT UGM di mana dia bekerja, lalu diserahkan ke dekan. Jika Pangesti yang meninggal, prosesi sampai UNY. Selanjutnya, diserahkan ke Fakultas Kedokteran UGM untuk dipersembahkan bagi kepentingan kemajuan ilmu pengetahuan yang maha luas… Tak ada batu nisan di pemakaman yang akan ditabur bunga oleh sahabat, kerabat dan anak-cucu.

    Sungguh mulia dan mengharukan. Berniatkah Anda untuk juga menjadi cadaver selanjutnya?. (Esti Susilarti)-g

    =================

    http://dianhapsari.wordpress.com/

    Tak Akan Ada Tabur Bunga untuk Pangesti Wiedarti dan Fitri Mardjono

    Pagi yang mendung. Seperti biasa Io mengantar koran minggu ke rumah kami. Kolom sastra, begitulah tujuan awal sebelum mata bergerak ke berita-berita lainnya. Tidak ada yang menarik di sana. Ya bukan karena tulisannya yang buruk, tapi kadang saya tidak tertarik karena judulnya atau mungkin karena si penulisnya yang tidak saya kenal. Untuk itu mata saya berhenti saja sebentar, lalu menelusur ke judul-judul besar kecil lainnya.

    Persis di halaman sembilan, saya berhenti. Saya menemukan sebuah foto wajah tersenyum yang sangat saya hafal: Pangesti Wiedarti! Ia bersama suaminya, Dr. Ir. Fitri Mardjono Msc, yang merangkulnya dengan keceriaan. Sekitar dua atau tiga bulan lalu, saya sempat ngobrol dengannya tentang teknologi informasi dan kehidupannya sebagai dosen. Kami jarang bertemu, tapi kami sering berkomunikasi lewat email maupun messenger. Lama juga emailku tidak dibalas. Tidak seperti biasanya. Semakin penasaran, saya memutuskan untuk menelponnya. “Wah…saya belum sempat membalas email kamu, Dhian. Saya harus bolak-balik rumah sakit. Suami saya masuk rumah sakit.” Terdengar dari suaranya bukan sebuah keluhan. Saya juga tidak menemukan ada keberatan yang mengantung dari suaranya, padahal saya tahu suaminya sedang sakit keras. Mungkin juga kondisi fisiknya juga tidak terlalu baik untuk mengurusi suaminya. Ia tidak suka mengeluh, apalagi terlihat tidak sehat apabila bertemu dengan siapapun.

    Wajah tegar dan bahagia itu pula yang tampak menghiasi halaman Keluarga harian Kedaulatan Rakyat. Judul di atas foto pasangan itu cukup besar: Wakafkan Jasad untuk Dunia Ilmu Pengetahuan. Itu artinya, ia akan menjadi cadaver (merelakan seluruh tubuh atau sebagian untuk diberikan pihak medis). Alasannya menjadi cadaver tidak ada lain untuk ikut berpartisipasi bagi dunia medis, agar tak ada keluarga (manapun) yang juga mengalami hal sama. Ia menambahkan, “Pada umumnya, teman-teman merasa ngeri. Padahal it is not a big deal for us karena kami sama-sama ilmuwan yang peduli pada kemajuan bidang media dan masyarakat Indonesia. Kami sudah memikirkannya sejak 1986.”

    Di Indonesia, menjadi cadaver masih belum lazim dilakukan. Ia juga paham tentang hal ini, tapi katanya, “Untunglah pada umumnya pihak medis sangat paham tentang niat kami, meski ulama masih pro-kontra.” Dukungan pihak medis semakin memantapkan niatnya untuk menjadi cadaver. “Prof Iwan Dwiparahasto, Pebantu Dekan I Fakultas Kedokteran UGM bahkan mengakui telah lama mengimpikan ada sosok yang suka rela menjadi cadaver.”

    Lantas, nantinya jasad Pangesti dan Fitri akan disumbangkan ke mana? Satu jawaban pasti darinya, “Fakultas kedokteran UGM.” Jasad mereka akan menjadi media pembelajaran mahasiswa kedokteran UGM dan civitas akademika lainnya yang memerlukan. Ya, jasad yang ditinggalkan nyawa itu akan mengabadi di kampus biru UGM. Apapun itu, mereka telah merencakannya dengan rapi hingga ke prosesi pelayatan apabila kematian datang seketika menjemput. “Ini bagian dari hak asasi manusia. Kami sudah niat dan sepakat!”

    Jadi apapun yang terjadi, sepeninggal Fitri Margono dan Pangesti Wiedarti, keluarga, kerabat dan kawan (siapapun itu) tidak akan menemukan di mana kuburan mereka. Tidak ada pula tabur bunga, tidak ada penggalian kubur, tidak ada batu nisan, tidak ada apapun yang bisa diziarahi.

    Selain mengabdi pada ilmu pengetahuan, pasangan itu juga mengurangi pemakaian lahan pekuburan. Tidak perlu bikin kapling atau beli tanah kuburan pula. Nah, kan selain jasad jadi lebih bermanfaat, juga tidak makan tempat. Ini karena sepengetahuan saya, di perkotaan kita harus menyewa tanah kuburan. Kalau sewanya tidak dibayar atau lain hal, kuburan kita akan digusur. Ditumpangi dengan jenazah lain yang kekurangan tempat. Sebenarnya itu tidak masalah bagi saya, tapi mungkin bermasalah bagi keluarga saya yang masih hidup. Tidak masalah bagi saya karena saya berpikir tentang efektifitas dan efisiensi pengeluaran (maklum saja saya harus memperhitungkan banyak hal untuk dapat bertahan di negeri ini). Yah, tapi kalau menjadi cadaver kok saya jadi geli-geli gimana gitu…membayangkan nantinya tubuh saya yang telanjang bulat akan dipelototi sekelompok mahasiswa kedokteran. Ah, ada apa di balik kacamata itu? (he he he…saya sering menemukan mahasiswa kedokteran pakai kacamata). Ngeri deh! Tapi kan saya sudah tidak merasakan apa-apa waktu itu.

    Baiklah. Sekali lagi, memilih menjadi cadaver atau menyerahkan jasad pada tanah, itu terserah anda.

    February 16, 2009
    Categories: Jalan-jalan . . Author: dianhapsari

    2 Comments

    Comment by tea on February 16, 2009 3:01 pm
    ah, ibu itu… selalu saja membuatku kagum. apapun yang dia lakukan selalu membuatku berdecak kagum.
    aku tak yakin akan melakukan sama seperti apa yang dia lakukan…
    tapi, apapun yang dia lakukan pada jasadnya nanti, dia akan selalu dikenang banyak orang. mengenang tak harus dengan tabur bunga, mbak…

    kemarin kok gak nongol pas musasi? ke mana neh?

    Comment by dita on February 19, 2009 2:41 pm
    ibi Pangesti..jadi kangen


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: