Archive for November 24th, 2008|Daily archive page

Renungan untuk suami ketika menghadapi istri yang cerewet

hasil dari blogwalking, menemukan sesuatu yang sangat berharga.. beneran coi.. ini berharga sangat (sok melayu…) bagus untuk meredam esmosi ketika para wanita sedang terbakar esmosi..

dikutip dari http://indriputri.wordpress.com/2008/11/21/renungan-untuk-suami-kala-istri-cerewet/

silahkan disimak..

Adakah istri yang tidak cerewet?

Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun cerewet.

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa. Menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah, tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?
Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?

Baca lebih lanjut

[komik] legging

ada yang menarik belakangan ini, Legging, tengah digandrungi para pecinta mode. Selain  menghiasi runway, fashion item ini juga tampak  disukai para perempuan dari berbagai golongan usia. Jika Anda ingin mengenakannya, sebaiknya perhatikan cara memadu-padankannya agar penampilan Anda enak dilihat dan…tampak modis! plus keliatan sexy…

Paduan legging dan rok mini adalah sebuah dynamic duo! Berlaku juga buat Anda yang ingin sekali memakai rok mini, namun belum cukup pede mengenakannya.  Hindari memilih rok yang ramai dengan hiasan renda atau rok berlipit, karena style ini tidak sesuai untuk dipadankan dengan legging. Anda yang sudah menginjak kepala 3 sebaiknya mengenakan rok yang panjangnya di atas lutut. Pilihan rok yang panjangnya jatuh di  pertengahan paha cocok untuk Anda yang masih berusia belasan atau 20 an.

gak hanya wanita saja yang layak untuk menggunakan legging, para pria pun dipersilahkan untuk menggunakan legging.. tapi komentar dari sekitar harap tanggung sendiri..

hal inilah yang diangkat oleh benny dan mince. ditampilkan pada harian kompas, 23 Nop 2008.. seger juga…
gak percaya? lihat yang dibawah ini…

Baca lebih lanjut

review asinan jakarta

pagi hari yang dingin ini, gue menemukan sebuah surel yang masuk di kotak masuk gue.. wah ternyata sebuah ulasan mengenai asinan jakarta.. dan tepat sekali… ulasan asinan jakarta yang pernah ada di blog gue ini.. pelan2 gue baca tulisan tersebut.. olala.. meleleh nih air liur.. apalagi ketika dalam prosesi penuangan gula jawa.. wah nikmat bangeetss.. biar semua kebagian kejadian “terbitnya air liur” silahkan baca review ini :

Nostalgia Asinan Betawi 1950-an
Begitu mendengar nama Menteng Pulo, Jakarta, ingatan banyak orang langsung tertuju ke kuburan. Kuburan taman yang tertata rapi itu adalah kuburan milik Belanda bernama Ereveld Menteng Pulo. Padahal selain yang seram-seram itu, kawasan tersebut juga menyimpan makanan tradisional yang sudah ada setengah abad lamanya.
Tepatnya di seberang Jalan Menteng Pulo, ada gang bernama Gang Sadar. Di mulut gang ini setiap hari nangkring pedagang Asinan Betawi. Asinan ini kini sudah memasuki generasi ketiga. Riwayatnya berawal dari sang kakek, yang asli Betawi, berkeliling menjajakan asinan pikulan hingga ke seputaran Jalan Dr Satrio di masa kini.
Setelah si kakek lelah memikul dagangan, tongkat estafet diserahkan ke generasi kedua yang sebentar berjualan dengan pikulan untuk kemudian memilih mangkal di kawasan Menteng Pulo. Berlanjut kemudian ke generasi ketiga. “Saya enggak tau kalau ditanya tahun berapa. Tapi udah lama, dari sejak kakek,” ujar Anih, generasi ketiga Asinan Betawi ini.
Sayangnya, baik Anih maupun adiknya, Inah, mengaku sama sekali tak ingat nama ayahnya, penerus kedua. Apalagi nama sang kakek. “Udah enggak ada semua. Saya enggak tau namanya siapa,” tegas Inah, yang diamini Anih.
Asinan Betawi yang satu ini masih dijajakan menggunakan pikulan, meski penjualnya mangkal. Biasanya, orang membeli asinan ini untuk dibawa pulang karena memang tak ada tempat tersisa bagi mereka yang ingin menyantap asinan segar ini di tempat jualannya. Karena berada di gang sempit, maka pembeli dan pedagang harus selalu bersenggolan dengan pengendara motor yang hilir mudik dari dan ke gang ini.
Bungkus pisang

Asinan seharga Rp 7.000 per porsi ini dibungkus dengan daun pisang sehingga menambah aroma. Isinya taoge dan kol di tambah sawi Cina, tahu dan timun yang sudah direndam air cabai dan cuka. Setelah itu, kacang tanah digoreng ditebar, kemudian diguyur lelehan gula jawa, sambal (jika mau), plus sedikit garam.
Setelah itu kuah cuka ditambahkan ke adonan tersebut. Terakhir, kerupuk kampung berwarna merah disebar. Jika mau, bisa ditambah kerupuk mi berwarna kuning. Harganya Rp 2.000 per kerupuk. Sebelum asinan ini disantap, aduk semua sampai rata. Maka rasa sebenarnya akan langsung menyentak lidah. Asam, manis, asin, dan berbagai rasa asli dari sayur-mayur yang digunakan. Jika ditambah sambal, tentu rasa pedas makin bikin semangat.
Karena dagangan ini sudah ada sejak sekitar 1950-an, maka tak aneh jika pelanggannya juga banyak dan turun temurun. Contohnya saat Warta Kota tanpa sengaja bertemu pelanggan yang sudah sejak tahun 1960-an sering menikmati asinan ini.
“Sudah sejak tahun 1960-an, sejak masih kecil, saya udah sering makan asinan ini. Dulu saya tinggal di Berlan, sering main ke sini cuma untuk cari asinan ini,” ujar Spriati, yang kini tinggal di Pasar Rebo dan tetap kangen kepada Asinan Betawi ini. Sekarang, Supriati menjabat Kepala Sekolah Dasar Palmeriam. Bersama putrinya, dia rela menerjang jalanan Jakarta yang macet dan berdenu demi sebuah nostalgia dari seporsi Asinan Betawi.
Asinan Betawi memang tak hanya ada di Gang Sadar, Jembatan Merah, Jakarta Selatan, ini. Di Jakarta Timur, tepatnya di Jalan Kamboja, Rawamangun,juga ada Asinan Betawi yang sudah berumur. Di tempat itu pembeli bisa makan di tempat karena penjual asinan ini punya tempat bernaung berupa warung. Soal rasa, semua tergantung selera. (pra)

Warta Kota
Minggu, 22 Juni 2008

kalau mau liat si ibu dan dagangannya silahkan cek link ini : https://mnrp.wordpress.com/2008/09/18/asinan-jakarta/